Edisi 27 Oktober 2026Uang yang bekerja untuk hidupmu.
← Dompet CerdasInvestasi

Obligasi dijelaskan sebagai surat utang: ketika giliran kita yang meminjamkan

Kata obligasi terdengar seperti urusan lembaga besar. Konsep dasarnya justru sederhana, karena semua orang sudah paham apa itu meminjam dan membayar bunga.

Hampir semua orang pernah berada di posisi peminjam: mengambil kredit kendaraan, memakai kartu kredit, atau sekadar berutang ke kerabat. Obligasi membalik posisi itu. Ketika seseorang membeli obligasi, ia menjadi pihak yang meminjamkan uang, dan penerbit obligasi, entah pemerintah atau perusahaan, menjadi pihak yang berutang kepadanya.

Karena itu obligasi sering disebut surat utang. Isinya adalah janji: penerbit akan membayar bunga secara berkala selama jangka waktu tertentu, dan pada akhir jangka waktu itu mengembalikan pokok pinjaman. Bunga berkala ini disebut kupon, akhir jangka waktu disebut jatuh tempo, dan pokoknya disebut nilai nominal.

Baca juga: Likuiditas: seberapa cepat uang yang diinvestasikan bisa kembali menjadi uang tunai

Mengapa harganya bisa berubah padahal janjinya tetap

Bagian yang sering membingungkan adalah bahwa obligasi bisa diperjualbelikan sebelum jatuh tempo, dan harganya bergerak. Padahal janji kupon dan pokoknya tidak berubah. Penjelasannya ada pada perbandingan: jika obligasi baru yang terbit menawarkan kupon lebih tinggi, obligasi lama dengan kupon lebih rendah menjadi kurang menarik, sehingga orang hanya mau membelinya dengan harga lebih murah. Sebaliknya, ketika kupon obligasi baru lebih rendah, obligasi lama menjadi lebih berharga.

Pergerakan harga ini hanya penting bagi orang yang ingin menjual sebelum jatuh tempo. Bagi yang memegangnya sampai akhir, yang diterima tetap kupon dan pokok sesuai janji, selama penerbitnya mampu membayar.

Risiko yang bentuknya berbeda dari saham

Risiko utama obligasi bukan harga yang bergejolak, melainkan kemampuan penerbit memenuhi janjinya. Obligasi yang diterbitkan pemerintah umumnya dipandang paling aman karena pemerintah punya kewenangan memungut pajak; obligasi perusahaan bergantung pada kesehatan perusahaan itu. Semakin diragukan kemampuan bayarnya, semakin tinggi kupon yang harus ditawarkan agar ada yang mau meminjamkan. Dengan cara pandang ini, kupon yang tinggi bukan hadiah, melainkan harga dari keraguan.

LP
Laksmi PradanaLaksmi menulis tentang reksa dana dan investasi bagi pemula sejak 2024. Ia tidak akan membahas sebuah produk sebelum membaca prospektusnya sampai halaman terakhir, sebuah kebiasaan yang sering membuat artikelnya terbit lebih lambat dari jadwal.
Dapatkan tulisan baru Dompet Cerdas lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.