Edisi 27 Oktober 2026Uang yang bekerja untuk hidupmu.
← Dompet CerdasPajak

Memahami potongan pajak di slip gaji: PPh 21 dijelaskan dari awal

Baris potongan pajak pada slip gaji jarang dipertanyakan. Padahal mekanismenya cukup sederhana jika diurai satu per satu.

Memahami potongan pajak di slip gaji: PPh 21 dijelaskan dari awal
Foto: M / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Di hampir setiap slip gaji pekerja formal ada baris bertuliskan PPh 21 dengan angka yang mengurangi penghasilan bersih. Kebanyakan pekerja menerimanya begitu saja, sebagian merasa jumlahnya terlalu besar, dan sangat sedikit yang tahu bagaimana angka itu dihitung. Padahal memahami baris ini membantu memastikan potongan sudah benar dan mempermudah pelaporan tahunan.

PPh 21 adalah pajak penghasilan atas gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima orang pribadi sehubungan dengan pekerjaan atau jasa. Yang membuatnya khas adalah mekanisme pemotongan: bukan pekerja yang membayar langsung ke negara, melainkan pemberi kerja yang memotong dari gaji dan menyetorkannya atas nama pekerja.

Baca juga: Pekerja lepas dan pajak: kewajiban yang baru terpikir ketika tahun hampir habis

Dari gaji kotor ke penghasilan kena pajak

Perhitungan dimulai dari penghasilan bruto, yaitu gaji pokok ditambah tunjangan dan komponen lain yang dibayarkan pemberi kerja. Dari angka ini dikurangi beberapa pengurang yang diizinkan, antara lain biaya jabatan dalam batas tertentu dan iuran pensiun atau jaminan hari tua yang dibayar pekerja sendiri. Hasilnya adalah penghasilan neto.

Penghasilan neto disetahunkan, lalu dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak, yaitu batas penghasilan yang dibebaskan dari pajak. Batas ini berbeda tergantung status perkawinan dan jumlah tanggungan, sehingga dua pekerja dengan gaji sama bisa memiliki potongan pajak yang berbeda. Sisa setelah pengurangan inilah yang disebut penghasilan kena pajak.

Tarif berlapis

Pajak penghasilan orang pribadi di Indonesia menggunakan tarif progresif berlapis: lapisan penghasilan pertama dikenai tarif terendah, lapisan berikutnya dikenai tarif lebih tinggi, dan seterusnya. Penting dipahami bahwa tarif yang lebih tinggi hanya berlaku untuk bagian penghasilan yang melampaui batas lapisan, bukan untuk seluruh penghasilan. Kenaikan gaji yang melewati batas lapisan tidak membuat seluruh gaji dikenai tarif baru.

Besaran tarif dan batas tiap lapisan ditetapkan dalam undang-undang dan dapat berubah, sehingga angka yang tepat sebaiknya selalu dirujuk dari ketentuan yang berlaku pada tahun bersangkutan melalui sumber resmi.

Mengapa potongan bisa berbeda tiap bulan

Pekerja sering heran ketika potongan pajak pada bulan tertentu berbeda dari bulan lain. Penyebab umumnya adalah bonus, tunjangan hari raya, atau lembur yang menambah penghasilan bulan itu. Dalam mekanisme pemotongan bulanan yang berlaku, komponen tidak tetap ini bisa membuat potongan melonjak pada bulan penerimaannya, lalu diperhitungkan kembali secara keseluruhan pada akhir tahun.

Perubahan status, seperti menikah atau bertambahnya tanggungan, juga memengaruhi potongan jika dilaporkan ke bagian personalia. Pekerja yang tidak memiliki nomor pokok wajib pajak dapat dikenai potongan yang lebih tinggi, yang menjadi salah satu alasan praktis untuk mengurus pendaftarannya.

Pada akhir tahun, pemberi kerja menerbitkan bukti potong yang merangkum seluruh penghasilan dan pajak yang telah disetorkan. Dokumen inilah yang menjadi dasar pengisian SPT Tahunan. Pekerja yang memahami alur dari slip gaji hingga bukti potong biasanya menemukan bahwa pelaporan tahunan jauh lebih sederhana dari reputasinya.

YF
Yoga FirmansyahYoga menangani topik utang, kredit, dan cicilan di Dompet Cerdas sejak 2024. Sebelumnya ia bekerja di bagian administrasi sebuah koperasi simpan pinjam, tempat ia melihat langsung bagaimana cicilan kecil menumpuk menjadi masalah besar.
Dapatkan tulisan baru Dompet Cerdas lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.