Edisi 27 Oktober 2026Uang yang bekerja untuk hidupmu.
← Dompet CerdasInvestasi

Generasi roti lapis: berinvestasi untuk hari tua sendiri sambil menanggung orang tua

Terjepit antara anak yang masih kecil dan orang tua yang menua, banyak pekerja menunda rencana pensiunnya sendiri. Urutan prioritas ini terdengar mulia, tetapi mengulang masalah yang sama satu generasi kemudian.

Generasi roti lapis: berinvestasi untuk hari tua sendiri sambil menanggung orang tua
Foto: S / Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)

Akhir tahun mengumpulkan tiga generasi di satu meja makan, dan bagi yang berada di tengah, pemandangan itu adalah ringkasan keuangannya: di satu sisi anak yang biaya sekolahnya naik setiap tahun, di sisi lain orang tua yang obat dan kontrolnya makin rutin. Di antara keduanya, rencana pensiunnya sendiri biasanya menjadi pos yang paling mudah dikorbankan, karena hanya dia sendiri yang tahu pos itu dikosongkan.

Mengapa pos sendiri yang pertama dikorbankan

Baca juga: Investasi yang tidak diketahui siapa pun: mengapa daftar aset dan wasiat adalah bagian dari portofolio

Logikanya terdengar benar: orang tua tidak bisa menunggu, anak tidak bisa ditunda, sedangkan pensiun masih puluhan tahun lagi. Yang luput dari logika ini adalah bahwa dana pensiun bekerja justru dengan waktu, dan setiap tahun yang dilewati tanpa setoran tidak bisa dibeli kembali. Lebih jauh lagi, orang tua yang hari ini ditanggung anaknya sebagian besar adalah orang yang dulu juga mengorbankan rencana hari tuanya untuk anak. Menunda pensiun demi orang tua dan anak adalah cara paling pasti untuk menjadikan anak kita generasi roti lapis berikutnya.

Ini bukan ajakan untuk mengabaikan orang tua. Ini ajakan untuk mengubah pertanyaannya, dari siapa yang didahulukan menjadi bagaimana ketiganya mendapat bagian, meski tidak sama besar.

Tiga pos yang hidup berdampingan

Mulailah dari yang paling sering tidak ada: pos tetap untuk orang tua. Kiriman yang jumlahnya berubah-ubah tergantung sisa bulan membuat anggaran tidak pernah jujur, dan membuat orang tua tidak bisa merencanakan hidupnya sendiri. Satu angka tetap setiap bulan, yang disepakati dengan saudara-saudara jika ada, mengubahnya dari kejutan menjadi anggaran. Percakapan dengan saudara tentang pembagian ini sering ditunda bertahun-tahun; akhir tahun, ketika semua berkumpul, adalah waktu yang tidak sempurna tetapi tersedia.

Pos kedua adalah setoran pensiun sendiri, dibuat otomatis dan ukurannya kecil jika perlu, tetapi tidak nol. Setoran kecil yang berjalan dua puluh tahun hampir selalu mengalahkan setoran besar yang baru dimulai sepuluh tahun sebelum pensiun. Pos ketiga, pendidikan anak, mengikuti dengan prinsip yang sama: jumlah yang bisa dipertahankan lebih penting daripada jumlah yang terlihat mengesankan.

Jika setelah ketiganya anggaran tidak muat, yang perlu dikecilkan bukan pos pensiun, melainkan gaya hidup di antaranya, atau jika mungkin, membicarakan dengan orang tua tentang aset yang mereka miliki dan belum dimanfaatkan. Rumah yang terlalu besar untuk dua orang, tanah yang tidak digarap, atau tabungan yang tidak tersentuh karena disimpan untuk anak-anak kadang lebih baik dipakai untuk kebutuhan orang tua sendiri, sehingga anak-anaknya bisa menabung untuk masa depannya. Percakapan ini berat. Tetapi keluarga yang berani memulainya biasanya memutus siklus yang sudah berjalan beberapa generasi.

TH
Teguh HartonoTeguh bergabung pada 2023 dan mengasuh topik asuransi serta dana darurat. Ia pernah bekerja sebagai agen asuransi, dan pengalaman menjelaskan polis kepada nasabah yang bingung itulah yang membuat tulisannya menghindari istilah yang tidak perlu.
Dapatkan tulisan baru Dompet Cerdas lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.