Membeli sedikit demi sedikit setiap bulan: mengapa rutin sering mengalahkan menunggu saat yang tepat
Menunggu harga turun terdengar cerdas, sampai kita sadar sudah menunggu bertahun-tahun. Setoran rutin yang membosankan justru menghilangkan satu masalah: harus menebak.
Ada satu kalimat yang hampir selalu muncul ketika seseorang mulai tertarik berinvestasi: nanti saja, tunggu harganya turun dulu. Kalimat ini terdengar hati-hati. Masalahnya, tidak ada yang tahu kapan turunnya, dan kalau sudah turun, kalimatnya berganti menjadi tunggu sampai jelas dulu.
Cara lain yang lebih membosankan tetapi lebih mudah dijalani adalah menyetor jumlah yang sama setiap bulan, tanpa melihat harga. Ketika harga tinggi, uang kita membeli lebih sedikit. Ketika harga rendah, uang yang sama membeli lebih banyak. Dalam waktu lama, harga rata-rata yang kita bayar menjadi campuran dari semuanya, tanpa perlu menebak sekali pun.
Baca juga: Biaya kecil yang menggerus hasil: memahami ongkos sebelum memilih produk investasi
Yang dibeli sebenarnya adalah kebiasaan
Keunggulan utama cara ini bukan soal hitung-hitungan. Keunggulannya adalah ia mengambil keputusan dari tangan kita di saat kita paling tidak bisa dipercaya: saat panik ketika harga jatuh, dan saat terlalu percaya diri ketika harga naik. Setoran rutin tidak punya perasaan.
Tentu, cara ini hanya masuk akal untuk uang yang memang tidak akan dipakai dalam waktu dekat, dan untuk produk yang kita pahami risikonya. Itu dua syarat yang sudah sering kami ulang, dan akan terus kami ulang.
Kalau hari ini kita masih menunggu saat yang tepat, mungkin saat yang tepat itu adalah tanggal gajian berikutnya, dengan jumlah kecil yang tidak akan membuat kita menyesal.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.